Memori Kolektif Kawasan Megalitik Kompleks Makam Kalokkoe Watu Sebagai Sumber Belajar

 ABSTRAK

Wahyulis Hersya, 2020. Lawatan Sejarah Daerah: Potensi Sumber Belajar di Kawasan Purbakala Marioriwawo (Kalokkoe Watu). Karya Tulis Ilmiah SMA Negeri 5 Soppeng. 

Dibimbing oleh Dra. Rosmaniah.

Perasaan acuh tak acuh, kurang perhatian, dan ketergantungan terhadap teknologi merupakan rangkaian permasalahan generasi muda terhadap Ilmu Kesejarahan. Padahal dengan mengetahui kondisi yang telah terjadi pada masa silam dapat kita jadikan sebagai pelajaran, pengetahuan, bahkan sebagai acuan untuk bekal persiapan hidup ke depannya. Berbagai inspirasi serta kesadaran dalam melawat langsung ke situs sejarah adalah bagian dari merawat memori kolektif pemuda serta memperjuangkan pembelajaran Sejarah yang aktif, kreatif dan inovatif. Pada tulisan ini peneliti bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan situs bersejarah pada kawasan kompleks pemakaman Kalokkoe Watu serta mengetahui maksud penataan makam yang terdapat di kawasan ini. Metode yang dilakukan oleh peneliti yakni metode Kualitatif di mana peneliti menempuh tahap wawancara dan observasi untuk memperoleh data-data berupa fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Kata Kunci: pemanfaatan, sumber belajar, situs bersejarah, memori kolektif.


PENDAHULUAN

Merawat memori kolektif kesejarahan merupakan upaya untuk melestarikan dan menjaga bukti yang nyata mengenai peristiwa masa lampau, di mana bukti tersebut merupakan harkat dan identitas suatu daerah. Dalam melestarikan memori kolektif kesejarahan daerah diperlukan dukungan dari semua kalangan, namun terkhusus pada generasi muda agar lebih aktif berperan sebagai penerus pada masa yang akan datang. Memori kolektif sebagai ingatan bersama di dalam suatu kelompok masyarakat yang dibangun dari sebuah pengalaman masa lalu yang terorganisir berdasarkan ingatan. Sehingga sebuah ingatan dijadikan dasar kehidupan berperilaku, dan dioperasikan dengan cara eksplisit dan implisit di berbagai tingkatan yang berbeda dari pengalaman. (Paul Connerton, 1989). 

Namun kenyataannya sejarah hanya di pandang sebagai rangkaian peristiwa belaka. Hal tersebut terjadi disebabkan karena rendahnya pemahaman dalam mengartikan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, bahkan dianggap tidak penting. Maka dari itu dibutuhkan media untuk memperoleh wawasan pengetahuan sejarah baik itu dalam bentuk media elektronik (handphone dan televisi) serta media cetak (Buku dan dokumen) agar dapat menarik minat anak muda. 

Ilmu sejarah di kalangan generasi muda tidak populer, padahal para ahli dan pemimpin sering mengatakan sejarah itu penting misalnya banyak bunyi slogan terdengar ‘’jangan melupakan sejarah’’ ini bermaksud agar masyarakat tidak meninggalkan sejarah, sebaiknya muncul kemauan untuk mempelajarinya demi kehidupan yang akan datang menjadi lebih baik. Kuntowijoyo (1994:17) mengatakan bahwa sejarah masih merupakan barang mewah memiliki yang sedikit peminatnya.

Wasino (2007:19) dalam bukunya menyatakan sumber sejarah berdasarkan bentuknya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu sumber benda (bangunan, perkakas, senjata), sumber tertulis (dokumen), sumber lisan (hasil wawancara). pertama sumber benda (artefak), sumber ini diperoleh dari peninggalan benda-benda kebudayaan kuno, sumber ini berbentuk bangunan, patung, candi, peralatan dan manik-manik. Yang kedua sumber tertulis, sejarah diperoleh melalui temuan tulisan peristiwa masa lalu. Baik berupa catatan fakta mengenai kejadian terdahulu, seperti prasasti, papan batu dan babad. Yang terakhir sumber sejarah lisan (oral), sumber ini berasal dari manusia atau saksi mata yang menjelaskan langsung kejadian yang dialaminya kepada orang lain.

Kemudian sumber sejarah dibedakan berdasarkan sifatnya sebagai sumber primer yang berasal dari sumber aslinya dan juga dikenal sumber sejarah sekunder yaitu petunjuk atau keterangan di dapatkan dengan perantara, tak berhubungan secara langsung. (Prof. DR. Kuntowijoyo, 2006). Soppeng memiliki beberapa situs peninggalan bersejarah sebagai simbol kehidupan masyarakat pada zaman dahulu di Watan Soppeng, salah satu contoh situs sejarah di kabupaten Soppeng yaitu Kalokkoe Watu, situs ini merupakan bukti peninggalan masa kejayaan awal Islam dan perubahan tradisi penguburan dari masa Pra-Islam ke masa Islam, kompleks pemakaman Kalokkoe Watu tergolong ke dalam sumber benda (bangunan makam), dikarenakan di tempat ini dapat kita temukan bangunan makam yang tersusun dari material batu-batu berukuran besar.

Situs ini terdapat di desa Watu Toa, Watu Toa merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Marioriwawo, Marioriwawo sendiri ialah sebuah wilayah yang secara administrasi merupakan bagian dari Kabupaten Soppeng, dan ibu kota Kecamatan yaitu Takalala. Wilayah ini merupakan daerah berbukit-bukit sehingga memberikan panorama alam yang indah dan udara yang sejuk, secara geografis terletak pada S 4°28’31’’ dan E 119°53’56’’situs ini terdapat di dusun Masumpu terletak pada 30 meter sebelah selatan jalan poros Desa dengan ketinggian 248 meter dari permukaan laut dan di sekeliling kawasan ini dimanfaatkan warga sebagai area perkebunan.

Berbicara mengenai sejarah pasti teringat dengan masa lalu, berarti sejarah merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia pada waktu lampau denganberbagai aspeknya. Peristiwa masa lampau yang diangkat kembali melalui prosedur penelitian sejarah oleh ahli dianggap memiliki manfaat atau kegunaan bagi kehidupan manusia pada masa sekarang yang mempelajarinya, antara lain untuk pendidikan, memberi pengajaran (instruktif), memberi ilham (inspiratif), memberi kesenangan (rekreatif) (Wasino, 2007:10).

Dengan lawatan langsung ke situs-situs prasejarah yang terdapat di daerah bumi Latemmamala maka berdasarkan uraian di atas kita dapat memahami bahwa segala aspek yang terdapat di sekitar kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan pengetahuan, serta dapat menunjang keberhasilan misi penguatan karakter generasi bangsa. Soppeng di antara beberapa kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai daerah yang memiliki beberapa situs sejarah sebaiknya mampu memanfaatkannya dengan baik dan lebih efektif sebagai potensi sumber belajar bagi generasi muda dalam mewujudkan penguatan karakter bagi generasi bangsa.

RUMUSAN MASALLAH

Dari pemaparan latar belakang di atas maka didapat analisis masalah sebagai berikut: 

(1)Bagaimana pemanfaatan situs Kompleks Makam Kalokkoe Watu sebagai potensi sumber belajar. (2) Bagaimana kondisi makam di Kompleks Makam Kalokkoe Watu.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui bagaimana pemanfaatan situs Kalokkoe Watu sebagai potensi sumber belajar. (2) Mengetahui maksud penataan makam para Datu (raja) Marioriwawo terdapat di Kalokkoe Watu.

MANFAAT PENELITIAN

Dapat bermanfaat sebagai bahan pustaka mengenai ilmu Sejarah di mana peran situs Sejarah yang ada di Bumi Latemmamala.

  1. Mengetahui bentuk-bentuk pemanfaatan situs sejarah di Bumi Latemmamala
  2. khususnya di Kecamatan Marioriwawo.
  3. Memberikan informasi terkini dan akurat.
METODE PENELITIAN

Dalam kajian ini peneliti menggunakan konsep metode pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif merupakan tahap awal dalam mengetahui gambaran umum latar penelitian ataupun kondisi objek yang akan diteliti, maka dari itu diperlukan kedalaman analisa dari peneliti, sehingga dapat diperoleh hasil yang bersifat subjektif dan belum dapat di generalisasi. Menurut Denzin & Licoln (1994) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.

Pada umumnya penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa metode yakni, wawancara dan observasi, berdasarkan penjelasan di atas penelitian ini diperoleh hasil dari penulis dengan data yang berasal dari hasil wawancara dan observasi serta kajian pustaka yang disajikan ke dalam bentuk paragraf deskriptif serta analisis data secara teknik interaktif bagaimana efektivitas manfaat situs sejarah di Kabupaten Soppeng sebagai sumber belajar bagi generasi muda dalam rangka penguatan karakter bagi generasi bangsa.

Maka dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara terhadap penjaga situs dan meminta informasi lebih lanjut mengenai Kompleks Makam Kalokkoe Watu Serta melakukan observasi langsung di kawasan Kompleks Makam Kalokkoe Watu.

SUMBER BELAJAR

Kata belajar tak asing lagi bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, belajar merupakan proses seseorang yang terjadi secara permanen untuk memperoleh sesuatu perubahan baru dengan cakupan secara menyeluruh, berupa hasil pengalaman sendiri dan interaksi terhadap lingkungannya. Perubahan seseorang yang mengarah pada perbuatan positif merupakan hasil dari belajar, hal tersebut tentunya diperlukan sesuatu yang dapat menunjang proses belajar agar dapat berjalan sesuai dengan harapan kita yakni diperlukannya sumber belajar. Secara umum sumber belajar merupakan sesuatu yang memuat acuan dan referensi sehingga menghasilkan pengalaman bagi peserta didik, dengan adanya sumber belajar ini dapat memberikan pengetahuan, informasi dan pengalaman serta keterampilan dalam kegiatan belajar.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber belajar merupakan segala sumber yang mendukung proses belajar baik berwujud makhluk hidup, benda, cara dan latar, sehingga bernilai manfaat bagi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran serta berguna untuk peningkatan kualitas belajarnya. Makhluk hidup misalnya orang, orang adalah pelaku yang berperan sebagai pencari, penyimpan dan penyaji. Benda merupakan sumber belajar yang berupa pesan yang disajikan lewat peralatan. Teknik atau cara ialah prosedur atau tata cara yang dilakukan untuk menggunakan bahan dan alat yang mengandung pesan. Latar atau lingkungan yaitu kondisi sekitar terjadinya proses belajar untuk menerima pesan. Hal ini di pertegas oleh (Arsyad 2016:8) menjelaskan bahwa sumber belajar adalah sumber-sumber yang mendukung belajar termasuk sistem penunjang, materi dan lingkungan pembelajaran.

Di dalam buku Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, teknologi pengajaran, hal. 79 menurut Donald P. Elly, sumber belajar dibedakan menjadi empat macam antara lain:
  1. Man, sebagai pihak yang menyalurkan atau mentransmisikan pesan.
  2. Material and Device, sebagai bahan (software) dan perlengkapan (Hardware).
  3. Methods , sebagai cara atau metode yang dipakai dalam menyajikan informasi.
  4. Setting, sebagai lingkungan tempat interaksi belajar mengajar terjadi.
Pembelajaran sejarah meliputi sumber sebagai berikut:
a) Jejak peninggalan sejarah seperti tertulis (Dokumen atau arsip) jejak benda
seperti fosil, monumen dan museum, jejak lisan pelaku yakni tokoh pejuang.
b) Sumber belajar yang siap dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah
meliputi: 
1) Museum : Tempat untuk melakukan usaha pengumpulan benda peninggalan sejarah, meriset, dan memamerkan benda bersejarah kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. 
2) Situs prasejarah : Suatu kawasan yang terdapat bangunan peninggalan sejarah yang menunjukkan bukti adanya pusat aktivitas masyarakat pada zaman dahulu, misalnya kompleks bangunan candi, makam, masjid dan keraton. 
3) Sumber manusia : Sejarawan atau tokoh perjuangan ataupun saksi mata terhadap kejadian masa bersejarah. 
4) Masyarakat : Penyampaian pesan seperti legenda, cerita rakyat. 
5) Perpustakaan : Tempat penyimpanan koleksi arsip kesejarahan yang disusun secara teratur dan sistematis agar dapat memudahkan proses peminjaman buku sejarah. 
6) Monumen : Monumen didirikan sebagai tanda atau peringatan, mengenang suatu peristiwa atau kejadian bersejarah.


PEMBELAJARAN SEJARAH

Sejarah merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan oleh kehidupan manusia, dan selalu berkembang sampai sekarang, seorang telah mengungkapkan bahwa belajar sejarah mudah, semakin kita mempelajarinya maka akan membuat rasa penasaran terhadap sejarah, sejarah merupakan hubungan manusia yang mengkaji kehidupan manusia lingkup ruang dan waktu, maka dapat diartikan sejarah merupakan rangkaian kejadian pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan bersejarah. Menurut bahasa Yunani sejarah berasal dari kata historia yang artinya menyusut, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian sedangkan dalam bahasa Jerman (Guschichte) adalah kajian tentang masa lampau, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia.

Pembelajaran sejarah tak hanya memberikan wawasan mengenai kondisi pada masa lalu, pembelajaran sejarah juga media untuk cerminan pemecahan masalah dan langkah-langkah dalam pengambilan keputusan jika dipahami dengan baik. Dikarenakan terdapat sejarah berupa pesan yang terkandung di dalam suatu benda peninggalan sejarah.

(Levstik & Barton, 2001) mengatakan pelajaran sejarah yang mendalam mengajak peserta didik untuk mengkritisi mitos menulis ulang cerita dan mengembangkan hikayat dari berbagai peristiwa. Konsep ini menjadikan siswa tidak hanya mengingat interpretasi orang lain melainkan juga mengembangkan interpretasi mereka sendiri tidak sekedar menjadi pengumpul informasi. 

KAWASAN PRASEJARAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR

Dilansir dalam (Wikipedia ensiklopedia bebas) Situs bersejarah atau situs warisan merupakan sebuah lokasi resmi di mana bagian sejarah, militer, budaya, atau sosial dilestarikan karena nilai warisan budaya tersebut. Situs bersejarah biasanya dilindungi oleh hukum, dan banyak yang telah diakui dengan status resmi situs bersejarah nasional. Situs bersejarah dapat berupa bangunan, lanskap, situs atau struktur apa pun yang memiliki makna lokal, regional atau nasional.

Kawasan prasejarah memiliki berbagai manfaat dan kegunaan, selain sebagai bukti nyata mengenai peradaban pada masa lalu serta bernilai rekreasi yakni sebagai situs pariwisata. Situs sejarah juga sebagai pusat utama penelitian arkeologi, maka dengan melawat ke kawasan prasejarah secara tidak langsung dapat menambah wawasan dan kualitas pembelajaran sejarah dan dapat menjadi pilihan alternatif dalam mendukung pembelajaran peserta didik di tempat terbuka.

Dalam pembelajaran sejarah bagi peserta didik sangat diperlukan inovasi dalam pembawaannya agar peserta didik menjadi tertarik untuk mempelajarinya, dengan adanya keberadaan situs sejarah dapat di manfaatkan oleh guru untuk menekankan kepada peserta didik belajar dari apa yang di amati seolah olah menghadirkan suasana bersejarah tersebut ke dalam pikiran mereka. Dengan inovasi yang telah disebutkan maka hal tersebut dapat menjadi solusi pembelajaran yang kurang menyenangkan bagi peserta didik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

1. Situs bersejarah yang dikunjungi dalam lawatan ini merupakan situs yang terdapat di Kabupaten Soppeng yaitu Kompleks Pemakaman Kalokkoe Watu sebagai tempat pemakaman raja-raja Marioriwawo yang pernah berkuasa. Situs Kalokkoe Watu terletak di Masumpu, Desa Watu Toa, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Watu merupakan bagian dari Marioriwawo di mana We Tenri Sui sebagai Datu (raja) di wilayah tersebut. Kompleks pemakaman ini terdapat bangunan makam ibu Aru Palakka dan beberapa makam tokoh-tokoh terkenal Marioriwawo dahulu antara lain:

1) We Tenri Sui
2) Andi Tenri Abeng Datu Watu
3) Andi Patoppongi Tau Pute
4) Andi Colli
5) Andi Pasuloi
6) Andi Saenabe da Ma’rang
7) Daeng Pajara Pabbicara Watu
8) Andi Rana Petta Pince Pute
9) Petta Pince

2. Kondisi situs-situs Pra-sejarah yang terdapat di wilayah Bumi Latemmamala sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar dengan melawat langsung, khususnya pada situs Kalokkoe Watu yang sangat erat kaitannya dengan peristiwa tradisi pada masa Pra-Islam dengan masa Islam di Marioriwawo.

3. Bentuk pemanfaatan situs-situs sejarah di Kabupaten Soppeng sudah dilaksanakan dengan baik dengan metode yang berbeda-beda sesuai dengan dukungan dari sekolah.

4. Dalam pemanfaatan situs-situs sejarah yang terdapat di Watan Soppeng terdapat kendala berdasarkan letak situs sejarah yang dituju dan faktor pendukung dari masing-masing sekolah.

PEMBAHASAN

Kecamatan Marioriwawo terdapat banyak sekolah baik PAUD, Sekolah Dasar, SMP Sederajat dan SMA Sederajat. Sebab adanya faktor karakteristik dan peminatan siswa yang berbeda-beda maka hal ini dapat mempengaruhi metode pembelajaran sejarah dari guru yang berbeda pula di setiap sekolah. Terkait di dalamnya perihal pemanfaatan situs Kalokkoe Watu sebagai alternatif pembelajaran sejarah. Buktinya pemanfaatan situs ini masih dibilang minim sebab tidak semua Sekolah yang terdapat di Kecamatan Marioriwawo memanfaatkannya sebagai sumber pembelajaran sejarah.

Segala upaya dalam memanfaatkan kompleks makam Kalokkoe Watu yang dapat kita lakukan sebagai tanda kepedulian kita terhadap kelestarian memori kolektif kesejarahan sebagai berikut:

  • Pemanfaatan kompleks makam Kalokkoe Watu sebagai objek wisata religi, tujuan dari pemanfaatan objek wisata religi di maksudkan untuk memperluas wawasan dan amalan agama dan penyampaian strategis dakwah dapat dirasakan bagi pengunjung yang melawat. Wisata religi adalah jenis wisata yang dikategorikan dalam wisata minat khusus. Wisata minat khusus menekankan pada ketertarikan (interest) yang sangat khusus dari wisatawan yang "are traveling to learn about and experience particular specific features related to an area" (Inskeep, 1991).
  • Pemanfaatan kompleks makam Kalokkoe Watu sebagai sumber belajar berbasis lingkungan. Selain dijadikan alternatif dalam pembelajaran sejarah di luar kelas, situs ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar berbasis lingkungan maka secara tidak langsung memberikan edukasi mengenai pelestarian lingkungan. Lingkungan dapat berfungsi untuk memperkaya materi pelajaran, memperjelas konsep-konsep yang dipelajari siswa dalam bidang studi/mata pelajaran tertentu dan bisa dijadikan sebagai laboratorium belajar para siswa, (Susanti & Mulyani, 2013). 


Kondisi di kompleks pemakaman Kalokkoe Watu sudah layak di jadikan sebagai tempat sumber belajar dikarenakan situs ini banyak menyimpan sejarah mengenai masa Pra-Islam dan Masa Islam di Marioriwawo serta asal-usul Datu (Kerajaan) Marioriwawo. Maksud dari penataan makam para Datu (raja) Marioriwawo yang terdapat di kawasan ini yaitu mengenai stratifikasi sosial pada masyarakat Bugis Marioriwawo pada masa lalu, Stratifikasi sosial merupakan penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarkis (Robert M.Z. Lawang).

Hal tersebut terjadi di kalangan masyarakat Marioriwawo dahulu, di mana seorang bangsawan dalam semasa hidupnya memiliki otoritas tertinggi di suatu wilayah serta memiliki kedudukan tertinggi dalam kehidupan sosialnya. Kemudian hal tersebut terus berlanjut hingga akhir hayat dibuatkan makam yang lebih besar dari makam rakyat biasa. Di atas makam ini terdapat bangunan permanen, padahal di dalam ajaran Islam bangunan permanen di atas makam tersebut terlarang, hal ini terjadi dikarenakan pengaruh Pra-Islam masih kental mengenai kepercayaan bahwa tempat yang ditinggikan merupakan tempat yang suci dan sering di anggap sakral oleh masyarakat.

Sebagai contoh, terdapat makam ibunda Aru Palakka yaitu We Tenri Sui. We Tenri Sui adalah Datu (raja) Marioriwawo yang menempati derajat yang lebih tinggi dari kekuasaan Tenri Abang sebagai Datu Watu. We Tenri Sui menempati lapisan teratas dalam pelapisan sosial masyarakat Marioriwawo. Hal ini termanifestasi pada Kompleks Makam Kalokkoe Watu, pertanda sistem pelapisan masyarakat berkelanjutan hingga akhir hayat. Di mana bangunan makam We Tenri Sui lebih besar di banding makam Tenri Abang sebagai Datu Watu serta makam yang lain di sekitar makam We Tenri Sui.

KESIMPULAN

Situs sejarah sangat baik untuk di manfaatkan sebagai sumber belajar, Soppeng khususnya di Kecamatan Marioriwawo yang memiliki beberapa situs bersejarah sebaiknya mampu memanfaatkannya dengan baik dan lebih efektif sebagai potensi sumber belajar bagi generasi muda dalam mewujudkan penguatan karakter bagi generasi bangsa. Berbagai bentuk pemanfaatan situs sejarah yang dilakukan berbeda-beda sesuai dengan karakteristik masing-masing sekolah. Dengan observasi pada Kompleks Makam Kalokkoe Watu dapat dipahami bahwa dahulu masyarakat Marioriwawo mengenal sistem stratifikasi sosial atau pelapisan masyarakat dengan menyakralkan tempat yang tinggi sebagai tempat yang suci serta sebagai tempat bersemayamnya nenek moyang.

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan selesainya ke penulisan karya tulis ilmiah ini penulis menyampaikan ucapan yang sangat dalam terhadap ke hadirat Allah S.W.T, berkat rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian serta menyelesaikan karya tulis ilmiah. Kedua orang tua saya yang senantiasa mendoakan dan mendukung saya dalam ke penulisan ini. Ibu Dra. Rosmaniah atas bimbingan dan arahan bahkan koreksinya dalam proses ke penulisan karya tulis ilmiah saya ucapkan banyak terima kasih. Serta Bapak Iwan selaku juru penjaga Kompleks Makam Kalokkoe Watu, terima kasih atas informasi yang telah di sampaikan.

SARAN DAN REKOMENDASI

Kompleks makam Kalokkoe Watu, sangat baik dijadikan sumber belajar maka dari itu penulis menyarankan agar situs ini di giatkan pengenalannya kepada masyarakat luas.

  1. Pemanfaatan situs bersejarah dapat menambah pengetahuan dan dapat memahami aktivitas masyarakat masa lampau.
  2. Sebaiknya menambah efektivitas dalam pembelajaran di kawasan bersejarah agar lebih menunjukkan kepedulian terhadap nilai-nilai budaya.
DAFTAR PUSTAKA

Albi Anggito, Johan Setiawan. 2018. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jawa Barat: Cv. Jejak.

Hana Sakura Putu Arga, Galih Dani Septiyan Rahayu, Deden Herdiana Altaftazani, D. Fadli
        Pratama. 2019. Sumber Belajar IPS Berbasis Lingkungan. Jawa Barat: UPI Sumedang
        gress.

Marsono, Fahmi Prihantara, Popi Irawan, Yulita Kusuma Sari. 2018. Dampak Pariwisata
        Religi Kawasan Masjid Sunan Kudus Terhadap Ekonomi, Lingkungan Dan Sosial-
        gudaya. D. I Yogyakarta: UGM PRESS.

Paul Connerton. 1989. How Socieites Remember. (London: Cambridge University Press.

Satrianawati. 2018. Media Dan Sumber Belajar. D.I. Yogyakarta: Deephublish.

Wasino. 2007. Dari Riset Hingga Tulisan Sejarah. Semarang: UNNES Press.

Yudiono K. S. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indionesia. Jakarta: Grasindo.

Komentar

Posting Komentar