Memori Kolektif Kawasan Megalitik Kompleks Makam Kalokkoe Watu Sebagai Sumber Belajar
ABSTRAK
Wahyulis Hersya, 2020. Lawatan Sejarah Daerah: Potensi Sumber Belajar di Kawasan Purbakala Marioriwawo (Kalokkoe Watu). Karya Tulis Ilmiah SMA Negeri 5 Soppeng.
Dibimbing oleh Dra. Rosmaniah.
Perasaan acuh tak acuh, kurang perhatian, dan ketergantungan terhadap teknologi merupakan rangkaian permasalahan generasi muda terhadap Ilmu Kesejarahan. Padahal dengan mengetahui kondisi yang telah terjadi pada masa silam dapat kita jadikan sebagai pelajaran, pengetahuan, bahkan sebagai acuan untuk bekal persiapan hidup ke depannya. Berbagai inspirasi serta kesadaran dalam melawat langsung ke situs sejarah adalah bagian dari merawat memori kolektif pemuda serta memperjuangkan pembelajaran Sejarah yang aktif, kreatif dan inovatif. Pada tulisan ini peneliti bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan situs bersejarah pada kawasan kompleks pemakaman Kalokkoe Watu serta mengetahui maksud penataan makam yang terdapat di kawasan ini. Metode yang dilakukan oleh peneliti yakni metode Kualitatif di mana peneliti menempuh tahap wawancara dan observasi untuk memperoleh data-data berupa fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya.
Kata Kunci: pemanfaatan, sumber belajar, situs bersejarah, memori kolektif.
PENDAHULUAN
Merawat memori kolektif kesejarahan merupakan upaya untuk melestarikan dan menjaga bukti yang nyata mengenai peristiwa masa lampau, di mana bukti tersebut merupakan harkat dan identitas suatu daerah. Dalam melestarikan memori kolektif kesejarahan daerah diperlukan dukungan dari semua kalangan, namun terkhusus pada generasi muda agar lebih aktif berperan sebagai penerus pada masa yang akan datang. Memori kolektif sebagai ingatan bersama di dalam suatu kelompok masyarakat yang dibangun dari sebuah pengalaman masa lalu yang terorganisir berdasarkan ingatan. Sehingga sebuah ingatan dijadikan dasar kehidupan berperilaku, dan dioperasikan dengan cara eksplisit dan implisit di berbagai tingkatan yang berbeda dari pengalaman. (Paul Connerton, 1989).
Namun kenyataannya sejarah hanya di pandang sebagai rangkaian peristiwa belaka. Hal tersebut terjadi disebabkan karena rendahnya pemahaman dalam mengartikan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, bahkan dianggap tidak penting. Maka dari itu dibutuhkan media untuk memperoleh wawasan pengetahuan sejarah baik itu dalam bentuk media elektronik (handphone dan televisi) serta media cetak (Buku dan dokumen) agar dapat menarik minat anak muda.
Ilmu sejarah di kalangan generasi muda tidak populer, padahal para ahli dan pemimpin sering mengatakan sejarah itu penting misalnya banyak bunyi slogan terdengar ‘’jangan melupakan sejarah’’ ini bermaksud agar masyarakat tidak meninggalkan sejarah, sebaiknya muncul kemauan untuk mempelajarinya demi kehidupan yang akan datang menjadi lebih baik. Kuntowijoyo (1994:17) mengatakan bahwa sejarah masih merupakan barang mewah memiliki yang sedikit peminatnya.
Wasino (2007:19) dalam bukunya menyatakan sumber sejarah berdasarkan bentuknya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu sumber benda (bangunan, perkakas, senjata), sumber tertulis (dokumen), sumber lisan (hasil wawancara). pertama sumber benda (artefak), sumber ini diperoleh dari peninggalan benda-benda kebudayaan kuno, sumber ini berbentuk bangunan, patung, candi, peralatan dan manik-manik. Yang kedua sumber tertulis, sejarah diperoleh melalui temuan tulisan peristiwa masa lalu. Baik berupa catatan fakta mengenai kejadian terdahulu, seperti prasasti, papan batu dan babad. Yang terakhir sumber sejarah lisan (oral), sumber ini berasal dari manusia atau saksi mata yang menjelaskan langsung kejadian yang dialaminya kepada orang lain.
Kemudian sumber sejarah dibedakan berdasarkan sifatnya sebagai sumber primer yang berasal dari sumber aslinya dan juga dikenal sumber sejarah sekunder yaitu petunjuk atau keterangan di dapatkan dengan perantara, tak berhubungan secara langsung. (Prof. DR. Kuntowijoyo, 2006). Soppeng memiliki beberapa situs peninggalan bersejarah sebagai simbol kehidupan masyarakat pada zaman dahulu di Watan Soppeng, salah satu contoh situs sejarah di kabupaten Soppeng yaitu Kalokkoe Watu, situs ini merupakan bukti peninggalan masa kejayaan awal Islam dan perubahan tradisi penguburan dari masa Pra-Islam ke masa Islam, kompleks pemakaman Kalokkoe Watu tergolong ke dalam sumber benda (bangunan makam), dikarenakan di tempat ini dapat kita temukan bangunan makam yang tersusun dari material batu-batu berukuran besar.
Situs ini terdapat di desa Watu Toa, Watu Toa merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Marioriwawo, Marioriwawo sendiri ialah sebuah wilayah yang secara administrasi merupakan bagian dari Kabupaten Soppeng, dan ibu kota Kecamatan yaitu Takalala. Wilayah ini merupakan daerah berbukit-bukit sehingga memberikan panorama alam yang indah dan udara yang sejuk, secara geografis terletak pada S 4°28’31’’ dan E 119°53’56’’situs ini terdapat di dusun Masumpu terletak pada 30 meter sebelah selatan jalan poros Desa dengan ketinggian 248 meter dari permukaan laut dan di sekeliling kawasan ini dimanfaatkan warga sebagai area perkebunan.
Berbicara mengenai sejarah pasti teringat dengan masa lalu, berarti sejarah merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia pada waktu lampau denganberbagai aspeknya. Peristiwa masa lampau yang diangkat kembali melalui prosedur penelitian sejarah oleh ahli dianggap memiliki manfaat atau kegunaan bagi kehidupan manusia pada masa sekarang yang mempelajarinya, antara lain untuk pendidikan, memberi pengajaran (instruktif), memberi ilham (inspiratif), memberi kesenangan (rekreatif) (Wasino, 2007:10).
Dengan lawatan langsung ke situs-situs prasejarah yang terdapat di daerah bumi Latemmamala maka berdasarkan uraian di atas kita dapat memahami bahwa segala aspek yang terdapat di sekitar kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan pengetahuan, serta dapat menunjang keberhasilan misi penguatan karakter generasi bangsa. Soppeng di antara beberapa kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai daerah yang memiliki beberapa situs sejarah sebaiknya mampu memanfaatkannya dengan baik dan lebih efektif sebagai potensi sumber belajar bagi generasi muda dalam mewujudkan penguatan karakter bagi generasi bangsa.
RUMUSAN MASALLAH
Dari pemaparan latar belakang di atas maka didapat analisis masalah sebagai berikut:
(1)Bagaimana pemanfaatan situs Kompleks Makam Kalokkoe Watu sebagai potensi sumber belajar. (2) Bagaimana kondisi makam di Kompleks Makam Kalokkoe Watu.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui bagaimana pemanfaatan situs Kalokkoe Watu sebagai potensi sumber belajar. (2) Mengetahui maksud penataan makam para Datu (raja) Marioriwawo terdapat di Kalokkoe Watu.
MANFAAT PENELITIAN
Dapat bermanfaat sebagai bahan pustaka mengenai ilmu Sejarah di mana peran situs Sejarah yang ada di Bumi Latemmamala.
- Mengetahui bentuk-bentuk pemanfaatan situs sejarah di Bumi Latemmamala
- khususnya di Kecamatan Marioriwawo.
- Memberikan informasi terkini dan akurat.
- Man, sebagai pihak yang menyalurkan atau mentransmisikan pesan.
- Material and Device, sebagai bahan (software) dan perlengkapan (Hardware).
- Methods , sebagai cara atau metode yang dipakai dalam menyajikan informasi.
- Setting, sebagai lingkungan tempat interaksi belajar mengajar terjadi.
a) Jejak peninggalan sejarah seperti tertulis (Dokumen atau arsip) jejak benda
seperti fosil, monumen dan museum, jejak lisan pelaku yakni tokoh pejuang.
b) Sumber belajar yang siap dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah
PEMBELAJARAN SEJARAH
Sejarah merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan oleh kehidupan manusia, dan selalu berkembang sampai sekarang, seorang telah mengungkapkan bahwa belajar sejarah mudah, semakin kita mempelajarinya maka akan membuat rasa penasaran terhadap sejarah, sejarah merupakan hubungan manusia yang mengkaji kehidupan manusia lingkup ruang dan waktu, maka dapat diartikan sejarah merupakan rangkaian kejadian pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan bersejarah. Menurut bahasa Yunani sejarah berasal dari kata historia yang artinya menyusut, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian sedangkan dalam bahasa Jerman (Guschichte) adalah kajian tentang masa lampau, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia.
Pembelajaran sejarah tak hanya memberikan wawasan mengenai kondisi pada masa lalu, pembelajaran sejarah juga media untuk cerminan pemecahan masalah dan langkah-langkah dalam pengambilan keputusan jika dipahami dengan baik. Dikarenakan terdapat sejarah berupa pesan yang terkandung di dalam suatu benda peninggalan sejarah.
(Levstik & Barton, 2001) mengatakan pelajaran sejarah yang mendalam mengajak peserta didik untuk mengkritisi mitos menulis ulang cerita dan mengembangkan hikayat dari berbagai peristiwa. Konsep ini menjadikan siswa tidak hanya mengingat interpretasi orang lain melainkan juga mengembangkan interpretasi mereka sendiri tidak sekedar menjadi pengumpul informasi.
KAWASAN PRASEJARAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Dilansir dalam (Wikipedia ensiklopedia bebas) Situs bersejarah atau situs warisan merupakan sebuah lokasi resmi di mana bagian sejarah, militer, budaya, atau sosial dilestarikan karena nilai warisan budaya tersebut. Situs bersejarah biasanya dilindungi oleh hukum, dan banyak yang telah diakui dengan status resmi situs bersejarah nasional. Situs bersejarah dapat berupa bangunan, lanskap, situs atau struktur apa pun yang memiliki makna lokal, regional atau nasional.
Kawasan prasejarah memiliki berbagai manfaat dan kegunaan, selain sebagai bukti nyata mengenai peradaban pada masa lalu serta bernilai rekreasi yakni sebagai situs pariwisata. Situs sejarah juga sebagai pusat utama penelitian arkeologi, maka dengan melawat ke kawasan prasejarah secara tidak langsung dapat menambah wawasan dan kualitas pembelajaran sejarah dan dapat menjadi pilihan alternatif dalam mendukung pembelajaran peserta didik di tempat terbuka.
Dalam pembelajaran sejarah bagi peserta didik sangat diperlukan inovasi dalam pembawaannya agar peserta didik menjadi tertarik untuk mempelajarinya, dengan adanya keberadaan situs sejarah dapat di manfaatkan oleh guru untuk menekankan kepada peserta didik belajar dari apa yang di amati seolah olah menghadirkan suasana bersejarah tersebut ke dalam pikiran mereka. Dengan inovasi yang telah disebutkan maka hal tersebut dapat menjadi solusi pembelajaran yang kurang menyenangkan bagi peserta didik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
1. Situs bersejarah yang dikunjungi dalam lawatan ini merupakan situs yang terdapat di Kabupaten Soppeng yaitu Kompleks Pemakaman Kalokkoe Watu sebagai tempat pemakaman raja-raja Marioriwawo yang pernah berkuasa. Situs Kalokkoe Watu terletak di Masumpu, Desa Watu Toa, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Watu merupakan bagian dari Marioriwawo di mana We Tenri Sui sebagai Datu (raja) di wilayah tersebut. Kompleks pemakaman ini terdapat bangunan makam ibu Aru Palakka dan beberapa makam tokoh-tokoh terkenal Marioriwawo dahulu antara lain:
1) We Tenri Sui2) Andi Tenri Abeng Datu Watu
3) Andi Patoppongi Tau Pute
4) Andi Colli
5) Andi Pasuloi
6) Andi Saenabe da Ma’rang
7) Daeng Pajara Pabbicara Watu
8) Andi Rana Petta Pince Pute
2. Kondisi situs-situs Pra-sejarah yang terdapat di wilayah Bumi Latemmamala sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar dengan melawat langsung, khususnya pada situs Kalokkoe Watu yang sangat erat kaitannya dengan peristiwa tradisi pada masa Pra-Islam dengan masa Islam di Marioriwawo.
4. Dalam pemanfaatan situs-situs sejarah yang terdapat di Watan Soppeng terdapat kendala berdasarkan letak situs sejarah yang dituju dan faktor pendukung dari masing-masing sekolah.
PEMBAHASAN
Kecamatan Marioriwawo terdapat banyak sekolah baik PAUD, Sekolah Dasar, SMP Sederajat dan SMA Sederajat. Sebab adanya faktor karakteristik dan peminatan siswa yang berbeda-beda maka hal ini dapat mempengaruhi metode pembelajaran sejarah dari guru yang berbeda pula di setiap sekolah. Terkait di dalamnya perihal pemanfaatan situs Kalokkoe Watu sebagai alternatif pembelajaran sejarah. Buktinya pemanfaatan situs ini masih dibilang minim sebab tidak semua Sekolah yang terdapat di Kecamatan Marioriwawo memanfaatkannya sebagai sumber pembelajaran sejarah.
Segala upaya dalam memanfaatkan kompleks makam Kalokkoe Watu yang dapat kita lakukan sebagai tanda kepedulian kita terhadap kelestarian memori kolektif kesejarahan sebagai berikut:
- Pemanfaatan kompleks makam Kalokkoe Watu sebagai objek wisata religi, tujuan dari pemanfaatan objek wisata religi di maksudkan untuk memperluas wawasan dan amalan agama dan penyampaian strategis dakwah dapat dirasakan bagi pengunjung yang melawat. Wisata religi adalah jenis wisata yang dikategorikan dalam wisata minat khusus. Wisata minat khusus menekankan pada ketertarikan (interest) yang sangat khusus dari wisatawan yang "are traveling to learn about and experience particular specific features related to an area" (Inskeep, 1991).
- Pemanfaatan kompleks makam Kalokkoe Watu sebagai sumber belajar berbasis lingkungan. Selain dijadikan alternatif dalam pembelajaran sejarah di luar kelas, situs ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar berbasis lingkungan maka secara tidak langsung memberikan edukasi mengenai pelestarian lingkungan. Lingkungan dapat berfungsi untuk memperkaya materi pelajaran, memperjelas konsep-konsep yang dipelajari siswa dalam bidang studi/mata pelajaran tertentu dan bisa dijadikan sebagai laboratorium belajar para siswa, (Susanti & Mulyani, 2013).
- Pemanfaatan situs bersejarah dapat menambah pengetahuan dan dapat memahami aktivitas masyarakat masa lampau.
- Sebaiknya menambah efektivitas dalam pembelajaran di kawasan bersejarah agar lebih menunjukkan kepedulian terhadap nilai-nilai budaya.
kerennn, semangat terus dalam menulis😇
BalasHapusterimakasih
Hapus